TUGAS
MATA KULIAH METODE PENELITIAN
LANDASAN
TEORI RULA & REBA
Disusun
Oleh :
Nama / NPM : Muhammad Riza Kahfi / 35416076
Kelas : 3ID09
Dosen : M Adi Rochmat
JURUSAN
TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS
TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
BEKASI
2018
RULA atau Rapid Upper
Limb Assesment dikembangkan oleh Dr. Lynn Mc Attanmey dan Dr. Nigel Corlett
yang mempakan ergononom dari universitas di Nottingham (University's
Nottinghamlnstitute of Occupational ergonomics). Pertama kali dijelaskan dalam
bentuk jumal aplikasi ergonomic pada tahun 1993 (Sutrio, 2011).
Rapid Upper Limb A
ssesment adalah metode yang dikembangkan alam bidang ergonomi yang
menginvestigasikan dan menilai posisi kerja yang dialakukan oleh tubuh bagian
atas. Perala tan ini tidak melakukan piranti khusus dalam memberikan pengukuran
postur leher, punggung, dan tubuh bagian atas sejalan dengan fungsi otot dan
beban ekstemal yang ditopang oleh tubuh. Penilaian dengan menggunakan metode
RULA membutuhkkan waktu sedikit untuk melengkapi dan melakukan scoring general
pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya pengurangan resiko yang
diakibatkan pengangkatan fisik yang dilakukan operator. RULA dipemntukkan dan
dipakai pad a bidang ergonomi dengan bidang cakupan yang luas (Sutrio, 2011).
Teknologi ergonomi
tersebut mengevaluasi pastur atau sikap, kekuatan dan aktivitas otot yang
merumbulkan cidera akibat aktivitas bemlang (repetitive starain injuries).
Ergonomi diterapkan untuk mengevaluasi hasil pendekatan yang bempa skor resiko
antara satu sampai tujuh, yang mana skor tertinggi menandakan level yang
mengakibatkan resiko yang besar (berbahaya) untuk dilakukan dalam bekerja. Hal
iill bukan berarti bahwa skor terendah akan menjamin pekerjaan yang diteliti
bebas dan ergonomic hazard. Oleh sebab itu metode RULA dikembangkan untuk
mendeteksi postur kerja yang bensiko dan dilakukan perbaikan sesegera mungkin
(Lueder, 1996). Pengembangan Rapid Upper Limb Assesment (RULA) terdin atas 3
(tiga) tahapan, yaitu (Sutrio, 2011) :
1.
Posisi
lengan atas
Untuk skor setiap gerakan posisi lengan atas dapat di lihat pada Tabel 2.1
Jika bahu terangkat dan lengan bawah mendapat tekanan maka skor ditambah 1, dan
bila posisi operator bersandar dan lengan ditopang maka skor dikurangi 1.
|
Skor
|
Gerakan
|
|
1
|
Lengan
atas membentuk sudut 20o
|
|
2
|
Lengan
atas membentuk sudut 20o-45o
|
|
3
|
Lengan
atas membentuk sudut 45o-90o
|
|
4
|
Lengan atas membentuk sudut >90o
|
2.
Posisi
lengan bawah
Untuk skor setiap gerakan posisi lengan bawah dapat
dilihat pada Tabel 2.2 Jika lengan bawah bekerja menyilang di depan tubuh atau
berada di samping tubuh maka skor ditambah 1.
|
Skor
|
Gerakan
|
|
1
|
Lengan atas membentuk sudut 60o-100o
|
|
2
|
Lengan atas membentuk sudut kurang dari 60o
atau lebih dari 100o
|
3.
Posisi
tekukan telapak tangan dan Posisi Telapak Tangan yang Mengalami Tekukan dan
Putaran
Penentuan posisi wrist atau tekukan telapak
tangan berdasarkan issu kesehatan dan keselamatan dapat di lihat pada Tabel 2.3
dan 2.4. Jika telapak tangan mengalami tekukan pada deviasi ulnar dan radial
maka skor ditambah 1 Posisi untuk telapak tangan yang mengalami tekukan dan
perputaran.
|
Skor
|
Gerakan
|
|
1
|
Jika telapak tangan berada posisi netral
|
|
2
|
Jika telapak tangan membentuk sudut 0o-15o
|
|
3
|
Jika telapak tangan tertekuk membentuk sudut lebih
dari 15o
|
Grup B terdiri dari beberapa posisi yaitu sebagai
berikut :
1.
Posisi dari
leher
Untuk skor setiap gerakan posisi
leher dapat di lihat pada Tabel 2.5. Jika leher operator banyak menoleh
kesamping kiri atau kanan dan tertekuk kesamping kiri dan kanan maka skor
ditambah 1
|
Skor
|
Gerakan
|
|
1
|
Jika leher membentuk sudut 0o-10o
|
|
2
|
Jika leher membentuk sudut 10o-20o
|
|
3
|
Jika leher membentuk sudut >20o
|
|
4
|
Jika leher melakukan posisi mendengak atau menunduk
|
2.
Posisi
punggung
Untuk skor
setiap gerakan posisi punggung dapat di lihat pada Tabel 2.6.
|
Skor
|
Gerakan
|
|
1
|
Jika operator duduk atau disangga dengan baik oleh
pinggul punggung yang membentuk sudut 90o atau lebih
|
|
2
|
Jika punggung membentuk sudut 0o-20o
|
|
3
|
Jika punggung membentuk sudut 20o-60o
|
|
4
|
Jika punggung membentuk sudut 60o
|
3.
Posisi kaki
Untuk skor
setiap gerakan posisi kaki dapat di lihat pada Tabel 2.7.
|
Skor
|
Gerakan
|
|
1
|
Jika paha dan kaki disangga dengan baik pada saat
duduk dan tubuh selalu dalam keadaan seimbang
|
|
2
|
Jika dalam posisi berdiri dimana berat tubuh
didistribusikan merata ke kedua kaki
|
|
3
|
Jika paha dan kaki tidak sangga dan titik berat
tubuh tidak seimbang
|
b. Pengembangan
sistem skor untuk penggolongan bagian tubuh
Sebuah nilai tunggal dibutuhkan dari
grup A dan grup B yang mana mewakili tingkatan atau pembobotan postur dari
sistem musculoskeletal yang terdapat dalam kombinasi postur bagian
tubuh. Kemudian langkah selanjutnya adalah menetapkan skor penggunaan otot (muscle
use score) dan skor untuk gaya atau pembebanan (force/load score),
dengan ketentuan sebagai berikut (Sutrio, 2011) :
1. Untuk muscle use score
ketentuan adalah bila postur tubuh tetap dalam jangka waktu yang lama (memegang
dalam waktu lebih dari 1 menit) atau melakukan pengulangan gerakan kira-kira 4
kali dalam waktu 1 menit maka skor bertambah menjadi 1.
2. Untuk force/load score dapat
dilihat pada Tabel 3.8. Untuk force atau load score selain
menggunakan tabel di atas juga ditentukan dari lamanya bekerja. Untuk
waktu kerja 4-6 jam maka skor menjadi 1, sedangkan untuk waktu kerja lebih dari
6 jam skor menjadi 2.
|
Skor
|
Gerakan
|
|
0
|
Bila beban kurang
dari 2kg
|
|
1
|
Bila beban
antara 2kg-10kg
|
|
2
|
Bila beban
antara 2kg-10kg (perulangan)
|
|
3
|
Bila beban
lebih dari 10kg atau perulangan atau beban kejut
|
Rapid Entire Body
Assissment (REBA) adalah suatu metode dalam bidang ergonomi
yang digunakan secara cepat untuk menilai postur leher, punggung, lengan,
pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja. REBA adalah alar penganalisa
postur tubuh yang bisa memeriksa aktivitas kerja. (Modul Praktikum "
Sistem Kerja dan Ergonomi") (Sutrio, 2011).
Metode Ini juga dilengkapi dengan faktor coupling, beban ekstemal, dan aktivitas kelja. Dalam metode ini, segmen
segmen tubuh dibagi menjadi dua grup, yaitu grup A dan Grup B . Grup A terdiri
dari punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sedangkan grup B terdiri dari
lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan (Sutrio, 2011) .
Penentuan skor REBA,
yang mengindikasikan level resiko dari postur kerja, dimuJai dengan menentukan
skor A untuk postuJ-postur gmp A ditambah dengan skor beban (load) dan skor B untuk postur-postur gmp B ditambah dengan
skor coupling. Kedua skor tersebut (skor A dan B)
digunakan untuk menentukan skor C. Skor REBA diperoleh dengan
menambahkan skor aktivitas pada skor C. Dari nilai REBA dapat diketahui level
resiko cedera. Pengembangan Rapid Entire Body Assissment (REBA) terdiri atas 3 (tiga) tahapan, yaitu
mengidentifikasikan kerja, Sistem pemberian skor, Skala level tindakan yang
menyediakan sebuah pedoman pad a tingkat yang ada, dibutuhkan untuk mendorong
penilaian yang lebih detail berkaitan dengan analisis yang didapat (Sutrio,
2011) .
Setelah diperoleh skor
REBA, yang bemilai 1 sampai 15 menunjukkan level tindakan (action level)
sebagai berikut: Action level 0 : Skor 1 menunjukkan bahwa pos tur ini sangat
diterima dan tidak perlu tindakan. Action level 1 : Skor 2 atau 3 menunjukkan
bahwa mungkin diperlukan pemeriksaan lanjutan. Action level 2 : Skor 4 sampai 7
menunjukkan bahwa perlu tindakan pemeriksaaan dan perubahan perlu dilakukan.
Action level 3 Skor 8 sampai 10 menunjukkan bahwa perlu pemeriksaan dan
perubahan diperlukan secepatnya. Action level 4 : Skor 11 sampai 15 menunjukkan
bahwa kondisi ini berbahaya maka pemeriksaan dan perubahan diperlukan dengan
segera (Sutrio, 2011) .
Metode
REBA pertama kali diperkenalkan oleh McAtamney dan Hignett pada tahun 1995
untuk menilai postur tubuh pekerja secara cepat melalui pengambilan data postur
pekerja dan selanjutnya dilakukan penentuan sudut pada batang tubuh, leher,
kaki, lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan. Tujuan metode REBA
adalah mengembangkan sebuah sistem analisa postur tubuh manusia yang sensitif
terhadap risiko musculoskeletal dalam berbagai pekerjaan berdasarkan segmen
tubuh manusia secara spesifik dalam gerakan tertentu (American Industrial
Hygiene Association Ergonomic Committee, 2009). Dengan menggunakan metode REBA,
kecelakaan kerja akibat gerakan-gerakan yang melebihi kemampuan pekerja dapat
ditanggulangi dengan berbagai usulan berdasarkan hasil penilaian tingkat bahaya
yang dapat ditimbulkan akibat postur tubuh pekerja (Martaleo 2012).
Output
dari metode REBA adalah skor REBA yang kemudian akan dikelompokkan berdasarkan
lima jenis action level. QEC merupakan metode penilaian risiko ergonomi di
tempat kerja yang dikembangkan oleh Guangyan Li dan Peter Buckle pada tahun
1999 (Pinder, 2002). Fungsi utama QEC adalah untuk mencegah terjadinya
Work-related Musculoskeletal Disorders (WMSDs) yang dialami oleh pekerja dengan
penanganan material secara manual. Pada metode QEC, pekerja dilibatkan secara
langsung dalam pengisian kertas penilaian (score sheet) dengan tujuan untuk
memudahkan pengamat dalam mengidentifikasi bagian tubuh yang memiliki risiko
terjadinya cedera. Lembar penilaian terdiri dari empat bagian utama yang akan
dinilai yaitu punggung, bahu atau lengan, pergelangan tangan atau tangan, dan
leher. Besarnya tingkat risiko yang diperoleh dari keempat bagian tersebut
dapat digunakan untuk membantu pengamat dalam menemukan adanya tingkat risiko
cedera WMSDs yang mungkin dialami oleh pekerja. Hasil dari penilaian keempat
bagian utama tersebut dapat diukur berdasarkan kriteria penilaian dengan empat
tingkat risiko yang berbeda (Martaleo 2012).
DAFTAR
PUSTAKA
Martaleo, Meity. 2012. PERBANDINGAN PENILAIAN RISIKO ERGONOMI DENGAN METODE
REBA DAN QEC (Studi Kasus Pada Kuli Angkut Terigu). Bandung: Universitas
Katholik Parahyangan.
Sutrio dan Oktri
Muhammad Firdaus. 2011. Analisis
Pengukuran RULA dan REBA Petugas pada Pengangkatan Barang di Gudang dengan
Menggunakan Software Ergolntelligence (Studi kasus: Petugas Pembawa Barang di
Toko Dewi Bandung). Bandung: Universitas Widyatama Bandung.