Rabu, 02 Januari 2019

PENGERTIAN RULA DAN REBA


TUGAS MATA KULIAH METODE PENELITIAN
LANDASAN TEORI RULA & REBA




Disusun Oleh :

Nama  / NPM  : Muhammad Riza Kahfi / 35416076
Kelas               : 3ID09
Dosen              : M Adi Rochmat
                                                             

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2018


RULA atau Rapid Upper Limb Assesment dikembangkan oleh Dr. Lynn Mc Attanmey dan Dr. Nigel Corlett yang mempakan ergononom dari universitas di Nottingham (University's Nottinghamlnstitute of Occupational ergonomics). Pertama kali dijelaskan dalam bentuk jumal aplikasi ergonomic pada tahun 1993 (Sutrio, 2011).
Rapid Upper Limb A ssesment adalah metode yang dikembangkan alam bidang ergonomi yang menginvestigasikan dan menilai posisi kerja yang dialakukan oleh tubuh bagian atas. Perala tan ini tidak melakukan piranti khusus dalam memberikan pengukuran postur leher, punggung, dan tubuh bagian atas sejalan dengan fungsi otot dan beban ekstemal yang ditopang oleh tubuh. Penilaian dengan menggunakan metode RULA membutuhkkan waktu sedikit untuk melengkapi dan melakukan scoring general pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya pengurangan resiko yang diakibatkan pengangkatan fisik yang dilakukan operator. RULA dipemntukkan dan dipakai pad a bidang ergonomi dengan bidang cakupan yang luas (Sutrio, 2011).
Teknologi ergonomi tersebut mengevaluasi pastur atau sikap, kekuatan dan aktivitas otot yang merumbulkan cidera akibat aktivitas bemlang (repetitive starain injuries). Ergonomi diterapkan untuk mengevaluasi hasil pendekatan yang bempa skor resiko antara satu sampai tujuh, yang mana skor tertinggi menandakan level yang mengakibatkan resiko yang besar (berbahaya) untuk dilakukan dalam bekerja. Hal iill bukan berarti bahwa skor terendah akan menjamin pekerjaan yang diteliti bebas dan ergonomic hazard. Oleh sebab itu metode RULA dikembangkan untuk mendeteksi postur kerja yang bensiko dan dilakukan perbaikan sesegera mungkin (Lueder, 1996). Pengembangan Rapid Upper Limb Assesment (RULA) terdin atas 3 (tiga) tahapan, yaitu (Sutrio, 2011) :
1.      Posisi lengan atas
Untuk skor setiap gerakan posisi lengan atas dapat di lihat pada Tabel 2.1 Jika bahu terangkat dan lengan bawah mendapat tekanan maka skor ditambah 1, dan bila posisi operator bersandar dan lengan ditopang maka skor dikurangi 1.
Skor
Gerakan
1
Lengan atas membentuk sudut 20o
2
Lengan atas membentuk sudut 20o-45o
3
Lengan atas membentuk sudut 45o-90o
4
Lengan atas membentuk sudut >90o
                  


         


2.      Posisi lengan bawah
Untuk skor setiap gerakan posisi lengan bawah dapat dilihat pada Tabel 2.2 Jika lengan bawah bekerja menyilang di depan tubuh atau berada di samping tubuh maka skor ditambah 1.
Skor
Gerakan
1
Lengan atas membentuk sudut 60o-100o
2
Lengan atas membentuk sudut kurang dari 60o atau lebih dari 100o
3.      Posisi tekukan telapak tangan dan Posisi Telapak Tangan yang Mengalami Tekukan dan Putaran
Penentuan posisi wrist atau tekukan telapak tangan berdasarkan issu kesehatan dan keselamatan dapat di lihat pada Tabel 2.3 dan 2.4. Jika telapak tangan mengalami tekukan pada deviasi ulnar dan radial maka skor ditambah 1 Posisi untuk telapak tangan yang mengalami tekukan dan perputaran.
Skor
Gerakan
1
Jika telapak tangan berada posisi netral
2
Jika telapak tangan membentuk sudut 0o-15o
3
Jika telapak tangan tertekuk membentuk sudut lebih dari 15o



Grup B terdiri dari beberapa posisi yaitu sebagai berikut :
1.      Posisi dari leher
Untuk skor setiap gerakan posisi leher dapat di lihat pada Tabel 2.5. Jika leher operator banyak menoleh kesamping kiri atau kanan dan tertekuk kesamping kiri dan kanan maka skor ditambah 1
Skor
Gerakan
1
Jika leher membentuk sudut 0o-10o
2
Jika leher membentuk sudut 10o-20o
3
Jika leher membentuk sudut >20o
4
Jika leher melakukan posisi mendengak atau menunduk

2.      Posisi punggung
Untuk skor setiap gerakan posisi punggung dapat di lihat pada Tabel 2.6.
Skor
Gerakan
1
Jika operator duduk atau disangga dengan baik oleh pinggul punggung yang membentuk sudut 90o atau lebih
2
Jika punggung membentuk sudut 0o-20o
3
Jika punggung membentuk sudut 20o-60o
4
Jika punggung membentuk sudut 60o

3.      Posisi kaki
Untuk skor setiap gerakan posisi kaki dapat di lihat pada Tabel 2.7.
Skor
Gerakan
1
Jika paha dan kaki disangga dengan baik pada saat duduk dan tubuh selalu dalam keadaan seimbang
2
Jika dalam posisi berdiri dimana berat tubuh didistribusikan merata ke kedua kaki
3
Jika paha dan kaki tidak sangga dan titik berat tubuh tidak seimbang

b.      Pengembangan sistem skor untuk penggolongan bagian tubuh
Sebuah nilai tunggal dibutuhkan dari grup A dan grup B yang mana mewakili tingkatan atau pembobotan postur dari sistem musculoskeletal yang terdapat dalam kombinasi postur bagian tubuh. Kemudian langkah selanjutnya adalah menetapkan skor penggunaan otot (muscle use score) dan skor untuk gaya atau pembebanan (force/load score), dengan ketentuan sebagai berikut (Sutrio, 2011) :
1.    Untuk muscle use score ketentuan adalah bila postur tubuh tetap dalam jangka waktu yang lama (memegang dalam waktu lebih dari 1 menit) atau melakukan pengulangan gerakan kira-kira 4 kali dalam waktu 1 menit maka skor bertambah menjadi 1.
2.    Untuk force/load score dapat dilihat pada Tabel 3.8. Untuk force atau load score selain menggunakan tabel di atas juga ditentukan dari lamanya bekerja. Untuk waktu kerja 4-6 jam maka skor menjadi 1, sedangkan untuk waktu kerja lebih dari 6 jam skor menjadi 2.

Skor
Gerakan
0
Bila beban kurang dari 2kg
1
Bila beban antara 2kg-10kg
2
Bila beban antara  2kg-10kg (perulangan)
3
Bila beban lebih dari 10kg atau perulangan atau beban kejut

Rapid Entire Body Assissment (REBA) adalah suatu metode dalam bidang ergonomi yang digunakan secara cepat untuk menilai postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja. REBA adalah alar penganalisa postur tubuh yang bisa memeriksa aktivitas kerja. (Modul Praktikum " Sistem Kerja dan Ergonomi") (Sutrio, 2011).
Metode Ini juga dilengkapi dengan faktor coupling, beban ekstemal, dan aktivitas kelja. Dalam metode ini, segmen­ segmen tubuh dibagi menjadi dua grup, yaitu grup A dan Grup B . Grup A terdiri dari punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sedangkan grup B terdiri dari lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan (Sutrio, 2011) .
 Penentuan skor REBA, yang mengindikasikan level resiko dari postur kerja, dimuJai dengan menentukan skor A untuk postuJ-postur gmp A ditambah dengan skor beban (load) dan skor B untuk postur-postur gmp B ditambah dengan skor coupling. Kedua skor tersebut (skor A dan B) digunakan untuk menentukan skor C. Skor REBA diperoleh dengan menambahkan skor aktivitas pada skor C. Dari nilai REBA dapat diketahui level resiko cedera. Pengembangan Rapid Entire Body Assissment (REBA) terdiri atas 3 (tiga) tahapan, yaitu mengidentifikasikan kerja, Sistem pemberian skor, Skala level tindakan yang menyediakan sebuah pedoman pad a tingkat yang ada, dibutuhkan untuk mendorong penilaian yang lebih detail berkaitan dengan analisis yang didapat (Sutrio, 2011) .
Setelah diperoleh skor REBA, yang bemilai 1 sampai 15 menunjukkan level tindakan (action level) sebagai berikut: Action level 0 : Skor 1 menunjukkan bahwa pos tur ini sangat diterima dan tidak perlu tindakan. Action level 1 : Skor 2 atau 3 menunjukkan bahwa mungkin diperlukan pemeriksaan lanjutan. Action level 2 : Skor 4 sampai 7 menunjukkan bahwa perlu tindakan pemeriksaaan dan perubahan perlu dilakukan. Action level 3 Skor 8 sampai 10 menunjukkan bahwa perlu pemeriksaan dan perubahan diperlukan secepatnya. Action level 4 : Skor 11 sampai 15 menunjukkan bahwa kondisi ini berbahaya maka pemeriksaan dan perubahan diperlukan dengan segera (Sutrio, 2011) .

Metode REBA pertama kali diperkenalkan oleh McAtamney dan Hignett pada tahun 1995 untuk menilai postur tubuh pekerja secara cepat melalui pengambilan data postur pekerja dan selanjutnya dilakukan penentuan sudut pada batang tubuh, leher, kaki, lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan. Tujuan metode REBA adalah mengembangkan sebuah sistem analisa postur tubuh manusia yang sensitif terhadap risiko musculoskeletal dalam berbagai pekerjaan berdasarkan segmen tubuh manusia secara spesifik dalam gerakan tertentu (American Industrial Hygiene Association Ergonomic Committee, 2009). Dengan menggunakan metode REBA, kecelakaan kerja akibat gerakan-gerakan yang melebihi kemampuan pekerja dapat ditanggulangi dengan berbagai usulan berdasarkan hasil penilaian tingkat bahaya yang dapat ditimbulkan akibat postur tubuh pekerja (Martaleo 2012).
Output dari metode REBA adalah skor REBA yang kemudian akan dikelompokkan berdasarkan lima jenis action level. QEC merupakan metode penilaian risiko ergonomi di tempat kerja yang dikembangkan oleh Guangyan Li dan Peter Buckle pada tahun 1999 (Pinder, 2002). Fungsi utama QEC adalah untuk mencegah terjadinya Work-related Musculoskeletal Disorders (WMSDs) yang dialami oleh pekerja dengan penanganan material secara manual. Pada metode QEC, pekerja dilibatkan secara langsung dalam pengisian kertas penilaian (score sheet) dengan tujuan untuk memudahkan pengamat dalam mengidentifikasi bagian tubuh yang memiliki risiko terjadinya cedera. Lembar penilaian terdiri dari empat bagian utama yang akan dinilai yaitu punggung, bahu atau lengan, pergelangan tangan atau tangan, dan leher. Besarnya tingkat risiko yang diperoleh dari keempat bagian tersebut dapat digunakan untuk membantu pengamat dalam menemukan adanya tingkat risiko cedera WMSDs yang mungkin dialami oleh pekerja. Hasil dari penilaian keempat bagian utama tersebut dapat diukur berdasarkan kriteria penilaian dengan empat tingkat risiko yang berbeda (Martaleo 2012).



DAFTAR PUSTAKA

Martaleo, Meity. 2012. PERBANDINGAN PENILAIAN RISIKO ERGONOMI DENGAN METODE REBA DAN QEC (Studi Kasus Pada Kuli Angkut Terigu). Bandung: Universitas Katholik Parahyangan.

Sutrio dan Oktri Muhammad Firdaus. 2011. Analisis Pengukuran RULA dan REBA Petugas pada Pengangkatan Barang di Gudang dengan Menggunakan Software Ergolntelligence (Studi kasus: Petugas Pembawa Barang di Toko Dewi Bandung). Bandung: Universitas Widyatama Bandung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar