ORGANISASI PENCAK SILAT
PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE
Mendengar
kata pencak silat mungkin tak lagi asing ditelinga kita, namun pada saat ini
khususnya pada era modern sekarang ini pencak silat mulai dilupakan beberapa
kalangan orang. Padahal pencak silat merupakan salah satu turunan kebudayaan
asli Indonesia yang sangat memiliki nilai jual yang tinggi apabila kita
manfaatkan dengan baik. Kita bisa mengambil contoh, saat ini banyak generasi
muda yang lebih tertarik menekuni ilmu bela diri dari Negara asing seperti
Taekwondo, Karate, Judo, Boxing dan yang lainnya. Oleh karena itu, kita sebagai
warga Negara Indonesia sudah seharusnya menjaga kebudayaan asli Indonesia yang
menjadikan Indonesia Negara yang kaya akan suku dan kebudayaannya.
Dan
saya disini mendapatkan tugas menceritakan satu organisasi pencak silat di Indonesia
dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah ilmu sosial dasar. Saya akan sedikit
menceritakan organisasi pencak silat asal Surabaya, yakni Persaudaraan Setia
Hati Terate atau disingkat PSHT.
Pada tahun 1903
di Kampoeng
Tambak Gringsing, Surabaya, Ki
Ageng Soero Dwiryo meletakkan dasar bagi gaya Pencak Silat Setia
Hati. Sebelum disebut Setia Hati, latihan Fisik/Gerakan Pencak Silat Setia Hati
disebut "Djojo Gendilo Tjipto Muljo" dan untuk ajaran kerokhanian dan
spiritual Setia Hati disebut "Sedulur Tunggal Ketjer" disingkat STK.[3] oleh Warga Tk.II pada latihan
tingkat Putih PSHT cabang Surabaya di IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1994 -
1995, antara lain Mas Ir. FX.Sentot Sutikno, Mas. Dr. Ir. H.Aliadi,MM dan Mas
Panggul</ref> Pada tahun 1917 Ki Ageng Soerodwirjo pindah ke Madiun dan
membangun dan mendirikan Persaudaraan "perguruan" Silat bernama
Persaudaraan Setia Hati di desa Winongo
Madiun. Pada saat itu Persaudaraan Setia
Hati bukanlah/belum menjadi organisasi, Setia Hati adalah persaudaraan (kadang)
saja di antara siswa, karena pada saat itu organisasi Pencak Silat tidak
diizinkan oleh kolonialisme Belanda. "Setia Hati" berarti Setia pada
Hati (diri) sendiri". Soerodiwirjo lahir keluarga bangsawan di daerah Gresik (versi lain di Madiun) Jawa Timur, Indonesia, pada kuartal
terakhir abad ke-19. Dia dijuluki sebagai "Ngabei" sebuah gelar
bangsawan eksklusif yang diberikan oleh Sultan dan hanya untuk mereka yang
telah membuktikan dirinya layak secara rohani. Dia tinggal dan bekerja di
berbagai lokasi di pulau Jawa dan Sumatera dan belajar gaya Pencak Silat dari
berbagai aliran. Di Sumatera juga belajar kerokhanian (kebatinan) pada seorang
guru spiritual. Kombinasi ajaran spiritual (kebatinan) dan gaya pencak silat
yang terbaik dari berbagai aliran ini yang menjadi dasar untuk silat Setia
Hati. Ki Ageng Hadji Soerodiwirjo meninggal pada 10 November 1944
di Madiun.
Pada tahun 1922,
Ki Hadjar Hardjo
Oetomo (pahlawan perintis
kemerdekaan 1883-1952), salah satu kadang Setia Hati, meminta izin kepada Ki
Ageng Soerodiwirjo untuk mendirikan latihan Setia Hati bagi generasi muda dan
diizinkan oleh Ki Ageng Soerodiwirjo, tetapi harus dalam nama yang berbeda.
Maka Ki Hardjo Oetomo mendirikan Setia Hati "Pemuda Sport Club"(SH
PSC) yang kemudian menjadi Persaudaraan Setia Hati "Pemuda Sport
Club" yang berupa sebuah Organisasi. Organisasi ini kemudian disebut
Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT pada tahun 1948 dalam kongres pertama
di Madiun. Setelah Perang Dunia II, PSHT terus
menyebar ke seluruh Indonesia. Seorang tokoh penting di balik semakin
populernya PSHT ini adalah Mas Irsjad yang merupakan siswa pertama Ki Hadjar Hardjo
Oetomo. Mas Irsyad ini juga menciptakan 90 Senam Dasar (Basic
Exercise), Jurus Belati (Jurus dengan pisau), dan Jurus Toya (Jurus dengan
panjang tongkat) yang membedakan dengan Setia Hati di Winongo. Salah satu siswa
Mas Irsjad adalah Mas Imam
Koesoepangat (1939-1987) pemimpin spiritual dari PSHT yang turut
berjasa membesarkan PSHT. Penggantinya, Mas Tarmadji Boedi Harsono(1987-2014), Saat ini dewan pusat
organisasi PSHT dipimpin oleh Kolonel Inf (Purn.) Mas Richard Simorangkir
sampai pada Parapatan Luhur digelar pada tahun 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar